Bola Diri Pribadi
|
Selengkapnya...
Negara-negara yang paling berbahagia
|
Kulit Pisang Jadi Bahan Bakar
Siapa sangka, kulit pisang yang selalu kita buang ternyata bisa djadikan sumber energi. Para peneliti dari Universitas Nottingham, Inggris menemukan cara untuk mengolah sampah kulit pisang yang banyak terdapat di Afrika, menjadi bahan bakar sumber energi.
Kulit pisang itu diubah menjadi semacam briket yang bisa dibakar dan digunakan untuk memasak, penerangan, dan pemanas ruangan. Penemuan briket dari kulit pisang ini bisa menggantikan penggunaan kayu bakar dan mengurangi penebangan pohon.
Di beberapa negara di Afrika, seperti Rwanda, terdapat banyak sekali pohon pisang. Pisang juga diolah menjadi makanan dan minuman, karena itu banyak terdapat sampah kulit pisang. Agar tidak menjadi sampah yang terbuang percuma, para peneliti memanfaatkannya menjadi bahan bakar yang bisa digunakan oleh masyarakat setempat.
Untuk membuat briket kulit pisang, pertama-tama kulit pisang yang telah membusuk dicampur dan ditumbuk menjadi satu, kemudian dibakar. Setelah dibakar, kulit pisang tersebut akan berubah menjadi seperti bubur.
Kemudian bubur akan dicampur dengan serbuk gergaji kemudian dipadatkan atau dikompres hingga terbentuk seperti balok kemudian dibakar kembali. Setelah dibakar, balok siap untuk digunakan.
"Pembuatan briket pisang ini menggunakan teknologi yang sangat sederhana. Kami membuatnya hanya dengan tangan dan tanpa bantuan peralatan mekanik,' kata Mike Clifford salah satu peneliti dari Universitas Nottingham.
Wah, teknologi tersebut bisa ditiru di Indonesia juga ya. Karena selain sebagai sumber energi baru juga dapat mengurangi sampah kulit pisang. (muslimdaily.net)
Selengkapnya...Es di Kutub Utara semakin Mencair

Kutub Utara berada di atas es yang lebih kecil dan lebih tipis dibandingkan dengan sebelumnya, sementara es tua yang kuat kian tergantikan oleh es muda yang cepat mencair, kata beberapa peneliti di NASA dan National Snow and Ice Data Center di Colorado. Menurut para peneliti tersebut, maksimum es laut Artik pada musim dingin ini bertambah 15 juta dan 150.000 kilometer persegi, sekitar 720.000 kilometer persegi lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata wilayah Kutub Utara antara 1979 dan 2000. Pada musim dingin normal, es seringkali memiliki ketebalan tiga meter atau lebih, tapi tahun ini, ketebalan lapisan es hampir-hampir tak dapat menembus sasaran yang tepat "Arctic Circle". "Kita tidak siap menghadapi musim panas," kata ilmuwan dari "Ice Data Center Walt Meier". "Kita berada pada situasi yang sangat genting." Jumlah es laut tebal mencapai tingkat rendah pada musim dingin dengan luas 680.400 kilometer persegi tahun ini, turun 43 persen dari tahun lalu, kata Meier seperti dikutip dari Xinhuanet-OANA. Biasanya, es yang tipis dan lebih muda berjumlah 70 persen dari lapisan es. Tahun ini, lapisan itu mencapai 90 persen, kata Meier. Es laut penting karena memantulkan sinar matahari dari Bumi. Makin banyak es tersebut mencair, makin banyak panas terserap oleh samudra, sehingga menambah panas temperatur di planet ini, kata manager program wilayah kutub NASA Tom Wagner. Pemanasan itu juga dapat mengubah pola iklim di seluruh dunia dan itu mengubah ekosistem bagi hewan seperti beruang kutub. Sementara itu kondisi Kutub Selatan juga memprihatinkan. Satu beting es telah sirna dengan cepat, satu mulai hilang dan gletser mencair lebih cepat dari perkiraan semua orang akibat perubahan iklim, kata beberapa peneliti pemerintah Inggris dan AS pada 3 April. Mereka mengatakan "Wordie Ice Shelf", yang telah terpecah sejak 1960-an, sirna dan bagian utara "Larsen Ice Shelf" sudah tak ada lagi. Lebih dari 8.300 kilometer persegi telah terpisah dari "Larsen Shelf" sejak 1986. Perubahan iklim lah penyebabnya, demikian isi laporan dari "US Global Survey" (USGS) dan "British Antartic Survey", sebagaimana disiarkan di dalam laman www.pubs.usgs.gov. "Berkurangnya gletser dengan cepat di sana memperlihatkan sekali lagi dampak nyata yang sedang dialami planet kita --lebih cepat dari yang sebelumnya diperkirakan-- sebagai dampak dari perubahan iklim," kata Menteri Dalam Negeri AS Ken Salazar dalam satu pernyataan. "Ini berlanjut dan seringkali pengurangan gletser yang seringkali dengan sangat besar adalah seruan peringatan bahwa perubahan terjadi ... dan kita perlu mempersiapkan diri," kata ahli glasiologi USGS Jane Ferrigno, yang memimpin studi Antartika, dalam satu pernyataan. "Antartika memiliki kepentingan khusus karena memiliki sebanyak 91 persen volume gletser di Bumi, dan perubahan di mana pun pada lapisan es menimbulkan ancaman besar bagi masyarakat," katanya. Dalam laporan lain yang disiarkan di dalam jurnal "Geophysical Letters", "National Oceanic and Atmospheric Administration" menyatakan es juga mencair jauh lebih cepat daripada perkiraan di Kutub Utara. Laporan tersebut didasarkan atas analisis baru komputer dan pengukuran es belum lama ini. "UN Climate Panel" memproyeksikan bahwa temperatur atmosfir dunia akan naik antara 1,8 dan 4,0 derajat celsius akibat buangan gas rumah kaca, kondisi yang dapat mengakibatkan banjir, kemarau, gelombang panas dan badai lebih kuat. Sementara gletser dan lapisan es mencair, keadaan itu dapat menaikkan seluruh permukaan air samudra dan merendam daerah dataran rendah. (muslimdaily.net)
Selengkapnya...Banyak Planet, Tetapi Tak Ada Yang Serupa Dengan Bumi

Pencarian planet mirip bumi, terus dilakukan oleh para ilmuwan dunia. Sejumlah ilmuwan menyatakan, akhirnya berhasil menemukan planet yang seukuran dengan bumi.
Hal itu terungkap pada konferensi ahli-ahli tata surya dan astronomi dalam European Week of Astronomy and Space Science. Demikian dikutip dari Times of India, Rabu (22/4/2009).
Menurut Xavier Bonfils, seorang peneliti dari observatorium Grenoble, Prancis, planet di luar tata surya itu merupakan satu dari ratusan planet yang ditemukan di luar tata surya. Saat ini, ilmuwan mengatakan ada sekitar 300 planet luar yang terdeteksi.
Namun, penemuan kali ini merupakan penemuan planet yang ukurannya mirip dengan bumi. Planet-planet yang ditemukan sebelumnya rata-rata lebih besar dari bumi.
Peneliti lain, Michel Mayor mengungkapkan planet tersebut belum dapat dihuni oleh manusia. Letaknya yang berdekatan dengan matahari membuat planet itu terlalu panas untuk kehidupan makhluk hidup.
Misi pencarian planet mirip bumi memang terus dilakukan. Maret silam, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sukses meluncurkan misi luar angkasa yang membawa teleskop untuk menjalankan misi pencarian planet mirip bumi. Teleskop bernama Kepler itu diluncurkan pada pukul 10.49, Jumat malam waktu setempat dari Pangkalan Angkatan Udara AS, Cape Canaveral, Florida. (muslimdaily.net)
Selengkapnya...Kodok Seukuran Ujung Jari Tangan
Subhanallah, tiadalah Allah menciptakan makhluq-Nya dengan kesia-sian dan sangat beragam.
Para peneliti berhasil mendeteksi spesies baru katak dari Lembah Cosqipata, Peru, yang unik dengan ukuran tubuh sangat kecil. Tanpa pengamatan seksama, katak yang hanya sebesar kuku jari manusia mungkin akan terlewatkan.
"Karakter yang paling unik dari spesies baru ini adalah ukurannya yang sangat kecil," ujar para peneliti seperti dilaporkan dalam jurnal Copeia edisi terbaru. Katak betina hanya tumbuh hingga sepanjang 1,24 sentimeter saat dewasa, sementara yang jantan hanya 1,11 sentimeter.
Katak yang belum diberi nama ilmiah ini dikelompokkan dalam genus Noblella. Hidupnya pada ketinggian antara 3.025 dan 3.190 meter di Pegunungan Andes. Habitatnya berupa dedaunan yang jatuh di lantai hutan tropis pegunungan tersebut.
Menurut salah satu penelitinya, Alessandro Catenazzi dari Universitas California, AS, habitatnya juga di luar dugaan. Pada ketinggian lebih dari 3.000 meter, biasanya hanya ditemui spesies dengan ukuran lebih besar.
(muslimdaily.net)
Selengkapnya...










